Jumat, 20 Mei 2011

Gifted Underachiever . . .
Pernahkah Anda mendengar istilah "anak underachiever"? Mungkin istilah
ini memang cukup asing bagi sebagian dari kita. Namun sebenarnya
anak-anak "underachiever" banyak kita temui dalam kehidupan
sehari-hari. Sekarng ini saya akan membahas mengenai anak
underachiever, mulai dari definisi, ciri-ciri, sampai penyebabnya.
 
Anak "underachiever" adalah anak yang berpotensi (berbakat), namun
tidak berprestasi. Ada beberapa fakta mengenai anak "underachiever" --
berdasarkan hasil penelitian:
 
1. "Underachiever" di Amerika ternyata jumlahnya cukup banyak, sekitar
10-40 persen dari populasi anak berbakat/istimewa (gifted). Mengapa
anak istimewa? Karena penelitian terhadap anak "underachiever"
biasanya dilakukan kepada anak istimewa, yang IQ-nya di atas
rata-rata.
 
2. Prestasi yang rendah merupakan gejala dari berbagai masalah pribadi
sosial. Artinya, masalah "underachiever" ini sangat kompleks, bisa
dari masalah pribadi (kesehatan, psikologis) dan sosial (keluarga,
sekolah, teman).
 
3. Sekolah menjadi prioritas yang terakhir. Bagi anak "underachiever"
kegiatan lain yang mereka sukai lebih dominan.
 
Sedangkan definisi dari "underachiever" adalah prestasi akademis anak lebih rendah
daripada perkiraan berdasarkan umur, kemampuan, dan potensi. Contohnya
anak kelas 2 SD, seharusnya bisa perkalian sampai 10, namun anak itu
tidak bisa (berdasarkan perkiraan umur). Berkaitan dengan kemampuan
dan potensi, sebagai contoh, kita melihat anak kita pintar bermain
suatu permainan (game). Ia dengan sangat cepat menguasai permainan
tersebut, tetapi untuk belajar berhitung dan menulis di sekolah, dia
lamban sekali. Kita tahu anak kita cerdas, namun tidak menonjol di
sekolah.
 
Ciri-ciri dari "Underachiever" adalah
1. IQ lebih tinggi daripada prestasi.
2. Prestasi tidak konsisten: kadang bagus, kadang tidak.
3. Tidak menyelesaikan pekerjaan rumah (PR).
4. Rendah diri.
5. Takut gagal (atau sukses).
6. Takut menghadapi ulangan.
7. Tidak punya inisiatif.
8. Malas, bahkan depresi.
 
Ada banyak penyebab anak menjadi "underachiever", termasuk lemah
belajar (learning disabled). Namun, kali ini saya akan memfokuskan
pada satu penyebab, yaitu cara kita membimbing mereka baik di rumah
maupun di sekolah dengan memakai metode "one size fits all" (atau
dalam ukuran baju disebut free size atau all size). Artinya, anak
dipaksa mengikuti sistem yang ada. Misalnya, guru mengatakan bahwa
kurikulum sudah demikian, maka anak harus mengikutinya. Lalu apa kata
orang tua? Orang tua hanya menurut dan berkata, "Apa yang dikatakan
guru sudah bagus. Kamu harus ikut sistem sekolah!" Prestasi anak
menjadi rendah, namun tidak pernah terpikirkan bahwa mungkin caranya
yang salah, bukan anaknya.
 
Lalu bagaimana solusinya???
solusinya adalah, anak-anak "underachiever" butuh kasih sayang
yang lebih. Orang tua dan para pendidik perlu menerima anak apa
adanya. Untuk mengatasi metode "one size fits all", kita butuh program
yang sangat spesifik untuk tiap-tiap anak dalam sistem/kurikulum yang
kita susun. Oleh karena itu, penting sekali bagi kita untuk mengenali
keunikan anak, sehingga kita bisa menciptakan lingkungan yang menjamin
kesuksesan bagi tiap anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar