Di zaman millenium ini, kita bukan hanya memperhatikan inteligensi otak (IQ, nilai akademik sekolah) tetapi kita juga harus memperhatikan kepribadian dan inteligensi emosional (EQ, AE). Emotional Intelligence atau sering disebut Emotional Quotient (EQ) adalah kecerdasan emosional yang mencakup kesadaran diri, pengendalian dorongan hati, ketekunan, semangat atau motivasi diri, empati, dan kecakapan sosial.
EQ mulai diperhatikan dan diperhitungkan setelah buku karangan Daniel Goleman, Ph.D, yang berjudul “Emotional Intelligence” pada tahun 1995. Buku ini sempat menggemparkan dan mengagumkan baik di dunia pendidikan, industri, maupun lembaga profesi lainnya. Hal tersebut menyebabkan para psikolog, psikiater, ilmuwan atau ahli ilmu perilaku melakukan berbagai penelitian terhadap EQ ini. Salah satu kesimpulan yang dihasilkan mereka adalah EQ merupakan faktor utama mengantar dan membawa keberhasilan seseorang dalam dunia kerja maupun lingkungan sosial.
Menurut goleman, emotional intelligence terdiri dari 4 area :
- Developing emotional, seperti : kemampuan untuk memisahkan perasaa dari tindakan.
- Managing emotions, seperti : mampu untuk mengendalikan amarah.
- Reading emotions, seperti : memahami perspektif orang lain.
- Handing relationships, seperti : kemampuan untuk memecahkan problem hubungan.
Sebelum sudah banyak kita ketahui penelitian tentang kecerdasan intelektual (IQ). Kecerdasan intelektual bisa diukur, ditunjuk dengan score-score tertentu, apakah tinggi, sedang, jenius, diatas rata-rata atau dibawah rata-rata. Jelas bahwa kecerdasan intelektual (IQ)yang tinggi berbicara tentang kemampuan minat intelektual yang dapat kita ramalkan. Sedangkan kecerdasan emosi (EQ) yang tinggi berbicara menggenai tidak mudah takut ataupun gelisah, mudah bergaul, mampu melibatkan diri dengan orang lain atau dengan permasalahan, tanggung jawabdan simpatik, erat dalam hubungan social.
Daniel Goleman mengungkapkan mengapa orang ber-IQ tinggi gagal dan orang yang ber-IQ sedang-sedang menjadi berhasil. Hal ini disebabkan oleh satu faktor penting, yang selama ini selalu diabaikan, yaitu faktor EQ. Kecerdasan emosional ini memiliki ciri-ciri yang menandai orang yang menonjol dalam hubungan interpersonal yang dekat dan hangat, penyesuaian dan pengendalian diri yang baik (dalam hal emosi, perasaan, frustrasi), menjadi bintang di pergaulan linkungan sosial dan dunia kerja. Seandainya seorang yang memiliki kecerdasan emosional yang rendah maka dia akan mengalami kesulitan bergaul (sulit berteman), kesulitan mendapat pekerjaan, kesulitan perkawinan, kecanggungan mendidik anak, memburuknya kesehatan, dan akhirnya menghambat perkembangan intelektual dan menghancurkan karir. Barangkali kerugian terbesar diderita oleh anak-anak, yaitu dapat terjerumus stres, depresi, gangguan makan, kehamilan yang tak diinginkan, agresivitas, dan kejahatan dengan kekerasan.
Dalam lingkungan sosial, orang yang berhasil belum tentu orang yang waktu masih sebagai siswa yang mempunyai nilai sekolah yang baik sekali, juga belum tentu yang keluaran dari sekolah favourit/terkenal. Mereka yang berhasil adalah kebanyakan dari mereka yang dalam memanfaatkan dan mengembangkan faktor EQ dalam hubungan sosial. Seperti : penghargaan satu dengan yang lainnya, kesadaran diri, pengendalian diri, kesabaran, sikap halus (lembut), optimistik, dan lain-lain. Disini digunakan kata memanfaatkan dan mengembangkan seperti disebutkan diatas karena EQ itu selain dipengaruhi oleh faktor keturunan (nature) juga dipengaruhi oleh faktor belajar/setelah lahir (nurture).
Satu hal yang menggembirakan ini adalah bahwa EQ itu dapat dikembangkan, dipupuk, dan diperkuat dalam diri kita semua. Oleh karena itu, kita bisa berusaha meningkatkan kecerdasan emosional itu agar memperoleh dan menikmati hidup yang sehat, bahagia, dan berhasil di segala bidang kehidupan ini. Meskipun demikian, kita tidak bisa mengenal diri kita secara penuh atau total, tetapi kita harus berusaha menuju jalan atau cara yang bisa membuat kita lebih mengetahui dan memahami EQ itu sendiri. Hal ini dengan maksud untuk menampilkan dan menguatkan perilaku kita yang positif (kelebihan dan keunggulan kita) serta menutupi dan mengaburkan perilaku kita yang negatif (kelemahan dan kejelekan kita).
Referensi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar