Sabtu, 28 Mei 2011

PEDAGOGI ..

 Pedagogi adalah ilmu atau seni dalam menjadi seorang guru. Istilah ini merujuk pada strategi pembelajaran atau gaya pembelajaran.
Pedagogi juga kadang-kadang merujuk pada penggunaan yang tepat dari strategi mengajar. Sehubungan dengan strategi mengajar itu, filosofi mengajar diterapkan dan dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan dan pengalamannya, situasi pribadi, lingkungan, serta tujuan pembelajaran yang dirumuskan oleh peserta didik dan guru. Salah satu contohnya adalah aliran pemikiran Sokrates.
 Alcolm Knowles menyatakan bahwa apa yang kita ketahui tentang belajar selama ini adalah merupakan kesimpulan dari berbagai kajian terhadap perilaku kanak-kanak dan binatang percobaan tertentu. Pada umumnya memang, apa yang kita ketahui kemudian tentang mengajar juga merupakan hasil kesimpulan dari pengalaman mengajar terhadap anak-anak. Sebagian besar teori belajar-mengajar, didasarkan pada perumusan konsep pendidikan sebagai suatu proses pengalihan kebudayaan.
 Atas dasar teori-teori dan asumsi itulah kemudian tercetus istilah "pedagogi" yang akar-akarnya berasal dari bahasa Yunani, paid berarti kanak-kanak dan agogos berarti memimpin. Kemudian Pedagogi mengandung arti memimpin anak-anak atau perdefinisi diartikan secara khusus sebagai "suatu ilmu dan seni mengajar kanak-kanak". Akhirnya pedagogi kemudian didefinisikan secara umum sebagai "ilmu dan seni mengajar". 
 Untuk memahami pengertian pedagogi yang telah dikemukakan, harus dilihat terlebih dahulu empat perbedaan mendasar, yaitu : 

1. Citra Diri 

Citra diri seorang anak-anak adalah bahwa dirinya tergantung pada orang lain. Pada saat anak itu menjadi dewasa, ia menjadi kian sadar dan merasa bahwa ia dapat membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Perubahan dari citra ketergantungan kepada orang lain menjadi citra mandiri. Hal ini disebut sebagai pencapaian tingkat kematangan psikologis atau tahap masa dewasa. Dengan demikian, orang yang telah mencapai masa dewasa akan berkecil hati apabila diperlakukan sebagai anak-anak. Dalam masa dewasa ini, seseorang telah memiliki kemauan untuk mengarahkan diri sendiri untuk belajar. Dorongan hati untuk belajar terus berkembang dan seringkali justru berkembang sedemikian kuat untuk terus melanjutkan proses belajarnya tanpa batas. Implikasi dari keadaan tersebut adalah dalam hal hubungan antara guru dan murid. Pada proses pedagogi, hubungan itu lebih ditentukan oleh guru dan bersifat mengarah. 

2. Pengalaman 

Orang dewasa dalam hidupnya mempunyai banyak pengalaman yang sangat beraneka. Pada anak-anak, pengalaman itu justru hal yang baru sama sekali. Anak-anak memang mengalami banyak hal, namun belum berlangsung sedemikian sering. Dalam pendekatan proses andragogi, pengalaman orang dewasa justru dianggap sebagai sumber belajar yang sangat kaya. Dalam pendekatan proses pedagogi, pengalaman itu justru dialihkan dari pihak guru ke pihak murid. Sebagian besar proses belajar dalam pendekatan pedagogi, karena itu, dilaksanakan dengan cara-cara komunikasi satu arah, seperti ; ceramah, penguasaan kemampuan membaca dan sebagainya.

3. Kesiapan Belajar 

Perbedaan ketiga antara pedagogi dan andragogi adalah dalam hal pemilihan isi pelajaran. Dalam pendekatan pedagogi, gurulah yang memutuskan isi pelajaran dan bertanggung jawab terhadap proses pemilihannya, serta kapan waktu hal tersebut akan diajarkan.

4. Nirwana Waktu dan Arah Belajar 

Pendidikan seringkali dipandang sebagai upaya mempersiapkan anak didik untuk masa depan. Dalam pendekatan pedagogi, belajar itu justru merupakan proses pengumpulan informasi yang sedang dipelajari yang akan digunakan suatu waktu kelak. Malcolm Knowles menyatakan bahwa apa yang kita ketahui tentang belajar selama ini adalah Andragogi dan Pedagogi 


Sabtu, 21 Mei 2011

ANDRAGOGI . .

Andragogi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni Andra berarti orang dewasa dan agogos berarti memimpin. Perdefinisi andragogi kemudian dirumuskan sebagai "Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar".
Kata andragogi pertama kali digunakan oleh Alexander Kapp pada tahun 1883 untuk menjelaskan dan merumuskan konsep-konsep dasar teori pendidikan Plato. Andragogi, juga merupakan proses pendidikan bagi seluruh orang dewasa, cacat atau tidak cacat secara berkelanjutan.
Apa itu pendidikan orang dewasa dan bagaimana dia berbeda dalam teori dan praktek dari persiapan pendidikan anak-anak dan pemuda. Pendidikan orang dewasa didefinisikan, digambarkan serta dipertimbangkan dalam hubungannya dengan profesi pelayanan manusia yang lain.

karakteristik andragogi menurut Malcom Knowles (1984), dalam bukunya, “Self-directed Learning”. 

1.       Kita lihat dari sisi siswa atau pemelajar.
   Siswa adalah mandiri (dialah yang mengarahkan dirinya untuk belajar apa dan bagaimana). Jadi,dialah yang bertanggung jawab atas belajarnya sendiri bukan guru, guru hanya sebatas fasilitator. Begitu pula dengan evaluasi, siswa penting sekali diberikan peluang yang cukup besar untuk melakukan evaluasi diri (self-assessment). 

2.       Kita lihat dari sisi peran pengalaman siswa atau pemelajar
   Pemelajar mengalami sesuatu secara leluasa. Pengalaman menjadi sumber utama mengidnetifikasi penguasaan dirinya akan sesuatu. Satu sama lain saling berperan sebagai sumber belajar. 


  3.    Kita lihat dari sisi orientasi terhadap belajar.
 Pemelajar harus memiliki keinginan untuk menguasai suatu pengetahuan/keterampilan tertentu, atau pemecahan masalah tertentu yang dapat membuat ia sendiri puas. Pelajaran harus relevan dengan kebutuhan tugas nyata pemelajar itu sendiri. Mata ajar didasarkan atas situasi pekerjaan atau kebutuhan real pemelajar, bukan berdasarkan topik-topik tertentu yang sudah ditentukan.

       4.       Kita lihat dari sisi motivasip belajar
        Motivasi lebih bersifat internal, datang dari diri sendiri sebagai wujud dari aktualisasi diri, penghagraan diri dan lain-lain.

Kesimpulan dari karakteristik andragogi dalam bukunya, “Self-directed Learning” adalah Andragogy memang merupakan teori orang dewasa. Oleh karena itu, orang dewasa harus diajar dengan pendekatan andragogi seperti dijelaskan di atas.


Andragogi (Andragogy), terdiri dari strategi belajar yang terfokus pada orang dewasa. Hal ini sering diartikan sebagai proses melibatkan siswa atau pembelajar dewasa dengan struktur belajar pengalaman. Awalnya digunakan oleh Alexander Kapp (pendidik Jerman) pada tahun 1833, Andragogi dikembangkan menjadi sebuah teori pendidikan orang dewasa oleh pendidik Amerika Malcolm Knowles.

Knowles menegaskan bahwa Andragogi (Yunani: “Orang-terkemuka”) harus dibedakan dari pedagogi lebih sering digunakan (bahasa Yunani: “anak-terkemuka”).

Teori Knowles ‘dapat dinyatakan dengan enam asumsi yang berhubungan dengan motivasi belajar orang dewasa:
  1. Orang dewasa perlu mengetahui alasan untuk belajar sesuatu (Harus Tahu)
  2. Pengalaman (termasuk kesalahan) menyediakan dasar untuk kegiatan belajar (Foundation).
  3. Orang dewasa harus bertanggung jawab atas keputusan mereka untuk pendidikan, keterlibatan dalam perencanaan dan evaluasi instruksi mereka (Self-konsep).
  4. Orang dewasa yang paling tertarik untuk belajar mata pelajaran memiliki relevansi langsung dengan pekerjaan mereka dan / atau kehidupan pribadi (Kesiapan).
  5. belajar dewasa adalah masalah-berpusat daripada konten berorientasi (Orientasi).
  6. Orang Dewasa merespon lebih baik untuk motivator internal versus eksternal (Motivasi).
Istilah Andragogi ini telah digunakan oleh beberapa untuk memungkinkan diskusi tentang kontras antara mandiri dan ‘mengajar’ pendidikan.

http://imtaq.com/perbedaan-pedagogi-dan-andragogy/

Jumat, 20 Mei 2011

Gifted Underachiever . . .
Pernahkah Anda mendengar istilah "anak underachiever"? Mungkin istilah
ini memang cukup asing bagi sebagian dari kita. Namun sebenarnya
anak-anak "underachiever" banyak kita temui dalam kehidupan
sehari-hari. Sekarng ini saya akan membahas mengenai anak
underachiever, mulai dari definisi, ciri-ciri, sampai penyebabnya.
 
Anak "underachiever" adalah anak yang berpotensi (berbakat), namun
tidak berprestasi. Ada beberapa fakta mengenai anak "underachiever" --
berdasarkan hasil penelitian:
 
1. "Underachiever" di Amerika ternyata jumlahnya cukup banyak, sekitar
10-40 persen dari populasi anak berbakat/istimewa (gifted). Mengapa
anak istimewa? Karena penelitian terhadap anak "underachiever"
biasanya dilakukan kepada anak istimewa, yang IQ-nya di atas
rata-rata.
 
2. Prestasi yang rendah merupakan gejala dari berbagai masalah pribadi
sosial. Artinya, masalah "underachiever" ini sangat kompleks, bisa
dari masalah pribadi (kesehatan, psikologis) dan sosial (keluarga,
sekolah, teman).
 
3. Sekolah menjadi prioritas yang terakhir. Bagi anak "underachiever"
kegiatan lain yang mereka sukai lebih dominan.
 
Sedangkan definisi dari "underachiever" adalah prestasi akademis anak lebih rendah
daripada perkiraan berdasarkan umur, kemampuan, dan potensi. Contohnya
anak kelas 2 SD, seharusnya bisa perkalian sampai 10, namun anak itu
tidak bisa (berdasarkan perkiraan umur). Berkaitan dengan kemampuan
dan potensi, sebagai contoh, kita melihat anak kita pintar bermain
suatu permainan (game). Ia dengan sangat cepat menguasai permainan
tersebut, tetapi untuk belajar berhitung dan menulis di sekolah, dia
lamban sekali. Kita tahu anak kita cerdas, namun tidak menonjol di
sekolah.
 
Ciri-ciri dari "Underachiever" adalah
1. IQ lebih tinggi daripada prestasi.
2. Prestasi tidak konsisten: kadang bagus, kadang tidak.
3. Tidak menyelesaikan pekerjaan rumah (PR).
4. Rendah diri.
5. Takut gagal (atau sukses).
6. Takut menghadapi ulangan.
7. Tidak punya inisiatif.
8. Malas, bahkan depresi.
 
Ada banyak penyebab anak menjadi "underachiever", termasuk lemah
belajar (learning disabled). Namun, kali ini saya akan memfokuskan
pada satu penyebab, yaitu cara kita membimbing mereka baik di rumah
maupun di sekolah dengan memakai metode "one size fits all" (atau
dalam ukuran baju disebut free size atau all size). Artinya, anak
dipaksa mengikuti sistem yang ada. Misalnya, guru mengatakan bahwa
kurikulum sudah demikian, maka anak harus mengikutinya. Lalu apa kata
orang tua? Orang tua hanya menurut dan berkata, "Apa yang dikatakan
guru sudah bagus. Kamu harus ikut sistem sekolah!" Prestasi anak
menjadi rendah, namun tidak pernah terpikirkan bahwa mungkin caranya
yang salah, bukan anaknya.
 
Lalu bagaimana solusinya???
solusinya adalah, anak-anak "underachiever" butuh kasih sayang
yang lebih. Orang tua dan para pendidik perlu menerima anak apa
adanya. Untuk mengatasi metode "one size fits all", kita butuh program
yang sangat spesifik untuk tiap-tiap anak dalam sistem/kurikulum yang
kita susun. Oleh karena itu, penting sekali bagi kita untuk mengenali
keunikan anak, sehingga kita bisa menciptakan lingkungan yang menjamin
kesuksesan bagi tiap anak.

Kamis, 19 Mei 2011

Apa itu EMOTIONAL INTELLIGENCE ???

Di zaman millenium ini, kita bukan hanya memperhatikan inteligensi otak (IQ, nilai akademik sekolah) tetapi kita juga harus memperhatikan kepribadian dan inteligensi emosional (EQ, AE). Emotional Intelligence atau sering disebut Emotional Quotient (EQ) adalah kecerdasan emosional yang mencakup kesadaran diri, pengendalian dorongan hati, ketekunan, semangat atau motivasi diri, empati, dan kecakapan sosial.

EQ mulai diperhatikan dan diperhitungkan setelah buku karangan Daniel Goleman, Ph.D, yang berjudul “Emotional Intelligence” pada tahun 1995. Buku ini sempat menggemparkan dan mengagumkan baik di dunia pendidikan, industri, maupun lembaga profesi lainnya. Hal tersebut menyebabkan para psikolog, psikiater, ilmuwan atau ahli ilmu perilaku melakukan berbagai penelitian terhadap EQ ini. Salah satu kesimpulan yang dihasilkan mereka adalah EQ merupakan faktor utama mengantar dan membawa keberhasilan seseorang dalam dunia kerja maupun lingkungan sosial. 

Menurut goleman, emotional intelligence terdiri dari 4 area :
  1.  Developing emotional, seperti : kemampuan untuk memisahkan perasaa  dari tindakan.
  2. Managing emotions, seperti : mampu untuk mengendalikan amarah.
  3. Reading emotions, seperti : memahami perspektif orang lain.
  4. Handing relationships, seperti : kemampuan untuk memecahkan problem hubungan.

Sebelum sudah banyak kita ketahui penelitian tentang kecerdasan intelektual (IQ). Kecerdasan intelektual bisa diukur, ditunjuk dengan score-score tertentu, apakah tinggi, sedang, jenius, diatas rata-rata atau dibawah rata-rata. Jelas bahwa kecerdasan intelektual  (IQ)yang tinggi berbicara tentang kemampuan minat intelektual yang dapat kita ramalkan. Sedangkan kecerdasan emosi (EQ) yang tinggi berbicara menggenai tidak mudah takut ataupun gelisah, mudah bergaul, mampu melibatkan diri dengan orang lain atau dengan permasalahan, tanggung jawabdan simpatik, erat dalam hubungan social.

Daniel Goleman mengungkapkan mengapa orang ber-IQ tinggi gagal dan orang yang ber-IQ sedang-sedang menjadi berhasil. Hal ini disebabkan oleh satu faktor penting, yang selama ini selalu diabaikan, yaitu faktor EQ. Kecerdasan emosional ini memiliki ciri-ciri yang menandai orang yang menonjol dalam hubungan interpersonal yang dekat dan hangat, penyesuaian dan pengendalian diri yang baik (dalam hal emosi, perasaan, frustrasi), menjadi bintang di pergaulan linkungan sosial dan dunia kerja. Seandainya seorang yang memiliki kecerdasan emosional yang rendah maka dia akan mengalami kesulitan bergaul (sulit berteman), kesulitan mendapat pekerjaan, kesulitan perkawinan, kecanggungan mendidik anak, memburuknya kesehatan, dan akhirnya menghambat perkembangan intelektual dan menghancurkan karir. Barangkali kerugian terbesar diderita oleh anak-anak, yaitu dapat terjerumus stres, depresi, gangguan makan, kehamilan yang tak diinginkan, agresivitas, dan kejahatan dengan kekerasan. 

Dalam lingkungan sosial, orang yang berhasil belum tentu orang yang waktu masih sebagai siswa yang mempunyai nilai sekolah yang baik sekali, juga belum tentu yang keluaran dari sekolah favourit/terkenal. Mereka yang berhasil adalah kebanyakan dari mereka yang dalam memanfaatkan dan mengembangkan faktor EQ dalam hubungan sosial. Seperti : penghargaan satu dengan yang lainnya, kesadaran diri, pengendalian diri, kesabaran, sikap halus (lembut), optimistik, dan lain-lain. Disini digunakan kata memanfaatkan dan mengembangkan seperti disebutkan diatas karena EQ itu selain dipengaruhi oleh faktor keturunan (nature) juga dipengaruhi oleh faktor belajar/setelah lahir (nurture).

Satu hal yang menggembirakan ini adalah bahwa EQ itu dapat dikembangkan, dipupuk, dan diperkuat dalam diri kita semua. Oleh karena itu, kita bisa berusaha meningkatkan kecerdasan emosional itu agar memperoleh dan menikmati hidup yang sehat, bahagia, dan berhasil di segala bidang kehidupan ini. Meskipun demikian, kita tidak bisa mengenal diri kita secara penuh atau total, tetapi kita harus berusaha menuju jalan atau cara yang bisa membuat kita lebih mengetahui dan memahami EQ itu sendiri. Hal ini dengan maksud untuk menampilkan dan menguatkan perilaku kita yang positif (kelebihan dan keunggulan kita) serta menutupi dan mengaburkan perilaku kita yang negatif (kelemahan dan kejelekan kita).


Referensi

Selasa, 26 April 2011

Perbedaan antara Psikologi Pendidikan dengan Psikologi Sekolah

Psikologi Pendidikan
Psikologi pendidikan adalah perkembangan dari psikologi perkembangan dan psikologi sosial, sehingga hampir sebagian besar teori-teori dalam psikologi perkembangan dan psikologi sosial digunakan di psikologi pendidikan. Psikologi pendidikan juga mempelajari  tentang perilaku manusia di dalam dunia pendidikan yang meliputi  studi sistematis tentang proses-proses, keefektifan sebuah pengajaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia yang tujuannya untuk mengembangkan dan meningkatkan keefisien di dalam pendidikan.

Psikologi Sekolah
Psikologi sekolah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi.

Jadi dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan antara psikologi pendidikan dengan psikologi sekolah Psikologi pendidikan merupakan pokoknya, yang mana psikologi pendidikan lebih ke system pendidikannya sedangkan psikologi sekolah merupakan cabangnya, yang mana psikologi sekolah hanya berada dilingkungan sekolah yang berhubungan dengan anak didik di sebuah instansi sekolah.

Selasa, 05 April 2011

Fenomena Pendidikan di Indonesia


Munculnya problema sosial, politik, budaya dan ekonomi di bangsa ini, seperti produktifitas penduduk terdidik yang merosot, persentase penduduk miskin yang meninggi, pengangguran yang semakin membesar, situasi negara yang mengalami ketergantungan dengan negara maju serta kultur budaya masyarakat bangsa yang kian tercerabut dari akar budayanya akan selalu dikaitkan dengan bagaimana pendidikan mampu menyelesaikan ini dan selalu akan memvonis dunia pendidikan itu sendiri. Karena cerminan kemajuan dan kebobrokan masyarakat disuatu negara pasti akan dilihat dari kualitas pendidikannya. Melihat dari semakin terdegradasinya moral dan etika serta carut marutnya sistem sosial masyarakat saat ini maka masyarakat pasti akan menghakimi ketidak-berdayaan lembaga pendidikan dalam menghasilkan out put pendidikan yang itu ternyata tidak mampu menyelesaikannya.
Diatas adalah sedikit ulasan dari jurnal yang kami dapat dan kami diskusikan.Jadi, menurut kami bahwa kemerosotan akan moral  dan akhlak merupakan bagian dari problematika pendidikan dalam keluarga,karena tentunya kita tahu bahwa pendidikan yang paling awal didapatkan seorang anak didapat dari keluarga. Jadi keluarga itu sangat berpengaruh pada psikologi dan perkembangan anak. Banyak kasus dimana seorang anak diminta orangtuanya untuk masuk ke sekolah yang diinginkan mereka padahal si anak justru kebalikannya. Dan alhasil si anak akan berprilaku yang tidak sesuai dari yang diharapkan orangtua. Misalnya : bolos sekolah,tidak mengerjakan tugas,melawan guru.Kasus ini tentunya berkaitan dengan Pendidikan Bimbingan Sekolah.Dimana pihak sekolah biasanya tidak dapat merubah perilaku tersebut,dan bahkan ada yang memilih untuk men-DO anak itu.Apakah hal ini sesuatu yang diinginkan dari banyak orang dalam dunia pendidikan? Tentu tidak. Justru hal tersebut sangat tidak diingankan oleh kita.Hal tersebut juga berkaitan dengan Psikologi Pendidikan.Dalam menciptakan dunia pendidikan yang lebih layak di Indonesia,Psikologi Pendidikan berusaha mengulas dan menemukan solusi dari kejadian-kejadian diatas.Dan perlu diingat,dalam menciptakan Dunia Pendidikan yang baik dan sesuai tentu tidak hanya berfokus pada lembaga pendidikan saja.Kita semua juga harus turut serta .

Kamis, 10 Maret 2011

Apa itu JOHARI WINDOWS???

 Johari Windows atau Jendela Johari merupakan salah satu cara untuk melihat dinamika dari self-awareness, yang berkaitan dengan perilaku, perasaan, dan motif kita. Model  Johari Windows diciptakan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham di tahun 1955 ini berguna untuk mengamati cara kita memahami diri kita sendiri sebagai bagian dari proses komunikasi. Dalam pembahasan model ini, Joseph Luft berpendapat bahwa kita harus terus meningkatkan self-awareness kita dengan mengurangi ukuran dari Kuadran 2-area Blind kita. Kuadran 2 merupakan area rapuh yang berisikan apa yang orang lain ketahui tentang kita, tapi tidak kita ketahui, atau lebih kita anggap tidak ada dan tidak kita pedulikan. Mengurangi are Blind kita juga berarti bahwa kita memberbesar Kuadran 1 kita-area Open, yang dapat berarti bahwa self-awareness serta hubungan interpersonal kita mungkin akan mengalami peningkatan.
Model Johari Windows ini terdiri dari sebuah persegi yang terbagi menjadi
empat kuadran, yaitu OPEN, BLIND, HIDDEN, dan UNKNOWN. 



 



  • Kuadran I (Open) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri dan orang lain. 
  • Kuadran II (Blind) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yangdiketahui oleh orang lain, tetapi tidak diketahui oleh diri kita sendiri.   
  •  Kuadran III (Hidden) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri, tetapi tidak diketahui oleh orang lain.  
  • Kuadran 4 (Unknown) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang tidak diketahui, baik oleh diri kita sendiri ataupun oleh orang lain.

 Cara kerja dari tes Johari Windows ini, dengan memberi daftar berisi 55 kata sifat kepada subyek tes. Dari 55 kata sifat tersebut, subyek tes akan diminta untuk memilih lima atau enam kata sifat yang paling mencerminkan diri mereka. Anggota *peer * dari subyek tes ini kemudian akan diberikan daftar yang sama dan diminta untuk memilih lima atau enam kata sifat yang menurut
mereka paling menggambarkan pribadi sang subyek tes. Hasil tersebut akan dicek silang dan dimasukkan dalam kuadran-kuadran yang tersedia. 


 Kelimapuluhlima kata sifat tersebut adalah: able, accepting, adaptable, bold, brave, calm, caring, cheerful, clever, complex, confident, dependable, dignified, energetic, extroverted, friendly, giving, happy, helpful, idealistic, independent, ingenious, intelligent, introverted, kind, knowledgeable, logical, loving, mature, modest, nervous, observant, organized, patient, powerful, proud, quiet, reflective, relaxed, religious, responsive, searching, self-assertive, self-conscious, sensible, sentimental, shy, silly, spontaneous, sympathetic, tense, dan trustworthy.



Selasa, 08 Maret 2011

Hal - Hal yang Menarik di Dunia

Pas lagi browsing-browsing di internet buat tugas pendidikan,  terus nemu hal-hal menarik yang sama sekali tidak pernah terlintas di benak kita. Yup berikut hal-hal unik di dunia yang menarik untuk disimak :)

  1. Ikan hiu kehilangan gigi lebih dari 6000 buah setiap tahun, dan gigi barunya tumbuh dalam waktu 24 jam.
  2. Sehelai rambut di kepala kita mempunyai masa tumbuh 2 sampai 6 tahun sebelum diganti dengan rambut baru. 
  3. India mempunyai Undang-Undang hak untuk sapi. Kira-kira di Indonesia ada gak ya..??
  4. 111,111,111 x 111,111,111 = 12,345,678,987, 654,321.
  5. Kentut sapi termasuk penyebab utama global warming.
  6. Kalau ada orang bilang 'bless you' setiap kali ada yang bersin karena memang setiap kali kamu bersin, jantungmu berhenti satu millisecond. 
  7. Ucapkan "sixth sick sheik's sixth sheep's sick" beberapa kali. Nanti anda akan mahir berbahasa inggris!. 
  8. Bersin terlalu keras dapat mematahkan tulang iga, memutuskan pembuluh darah di kepala atau leher dan mengakibatkan kematian (wadoooh??) 
  9. Pohon kelapa membunuh 150 orang tiap tahun. Lebih banyak daripada hiu. 
  10. Topeng tokoh Michael Myers di film horor ‘Helloween’ sebenernya topeng tokoh Captain Kirk (Star Trek) yang di cat putih, karena kurang dana. 
  11. Kuda Nil buang angin (kentut) lewat mulut.
  12. Saat kita bertahan hidup dan tidak ada bahan makanan, sabuk kulit dan sepatu keds adalah makanan terbaik untuk dimakan karena mengandung cukup gizi untuk hidup sementara.
  13. Mangunyah permen karet saat mengupas bawang mencegah kita menangis.
  14. Gajah satu-satunya hewan yang tidak bisa meloncat. 
  15. Rata-rata orang bergerak 40 kali dalam tidurnya. 
  16. Kalimat yang bisa dibaca sama dari depan dan belakang (racecar, kayak, tamat) disebut “palindrome” . 
  17. Memakai Headphone selama 1 jam dapat mengembangbiakan bakteri dalam kuping 700 kali lebih cepat. 
  18. Pendeta Mesir kuno mencabuti setiap helai rambut dan bulu dari badan mereka. 
  19. Karena pengaruh rotasi bumi, kalau kita melempar kearah barat, lemparan kita akan lebih jauh jatuhnya dari pada kearah timur. 
  20. Ikan mas yang bunting disebut ‘twit’. 
  21. Lalat meloncat mundur saat akan terbang. 
  22. Tanduk badak terbuat dari rambutnya yang mengeras. 
  23. Orang yang menggunakan tangan kanan, kira-kira, 9 tahun lebih panjang umur dari orang kidal. 
  24. Dalam 4000 tahun, tidak ada jenis binatang peliharaan baru. 
  25. Liburan selama sebelas hari berarti kita punya waktu hampir sejuta detik untuk menikmatinya.