Laporan Wawancara
BAB I
PENDAHULUAN
Mengajar
merupakan seni dan ilmu mentransformasikan bahan ajar kepada serta didik pada
situasi dan dengan menggunakan media tertentu. Ilmu mengajar bisa dipelajari
dimana pun dan kapan pun, baik individual, kelompok maupun dilembagakan. Banyak
orang yang mengatakan bahwa mengajar adalah ilmu. Bagi mereka, kegiatan
mengajar harus berbasis dan dipandu oleh ilmu. Dimana menekankan aspek ilmiah
dalam kegiatan pengajaran dan berfokus pada cara-cara melakukan sistematis
komunikasi antara guru dan siswa.
Banyak
juga orang yang mengatakan bahwa mengajar adalah seni. Orang-orang ini percaya
bahwa memposisikan mengajar sebagai aktivitas “ilmiah” memang dapat
diformalkan, namun jika hal itu menjadi resep pendekatan yang memaksa, makan
akan terjadi birokratisasi dan pemaksaan aktivitas belajar. Elliot Eisner
berpendapat bahwa, seorang guru dapat menampilkan dirinya jauh lebih seperti
seniman daripada ilmuwan. Dimana pengajaran melibatkan penilaian kompleks yang
terbentang sepanjang pengajaran itu sendiri.
Pada
masa sekarang ini, terkadang guru tidak hanya dituntut untuk lebih aktif dalam
mengajar, tetapi juga dituntut untuk lebih bisa memahami kebutuhan siswanya
dalam menghadapi perubahan perkembangan zaman yang semakin tidak terkendalikan.
Dimana guru dituntut memiliki pengetahuan yang sangat luas terhadap berbagai
bidang dan guru juga diharuskan untuk
“’melek” dengan teknologi. Artinya, tidak hanya terpaku pada model pembelajaran
yang kaku, tetapi guru harus bisa memodifikasi cara pembelajaarn yang lebih
luwes, sehingga para siswa tidak merasa bosan ketika proses pembelajaran
dimulai dan membuat siswa mau untuk lebih mengenal teknologi yang sedang
berkembang ini.
Untuk
itu, bagaimana peran guru di sekolah tidak lagi sebagai pemberi atau sumber
dari ilmu, tetapi lebih kepada pembimbing dalam menghadapi perkembangan zaman.
Bagaimana prinsip dan metode yang diterapkan oleh seorang pendidik ketika
mengajar menjadi salah satu aspek penting yang harus di perhatikan oleh seorang
pendidik.
Disini
saya mewawancarai seorang guru yang bisa dibilang cukup lama menggajar yaitu ± 6
tahun, dengan berbagai ilmu yang beliau ajarkan. Beliau mengajar dari
beliau kelas 2 SMA yang awal hanya mengajar anak SMP saja dan sekarng beliau sudah
mengajar private untuk anak SMP dan SMA. Disini tujuan saya dalam
wawancara ini adalah untuk mengetahui dinamika dalam mengajar seorang guru dan
kenapa alasannya saya memilih beliau karena beliau sudah termasuk dalam kriteria.
BAB II
HASIL WAWANCARA
2.1 Biodata
Nama : IKO
(inisial)
Usia : 23 TAHUN
2.2 Hasil Wawancara
1.
Iter :
Sudah berapa lam Anda mengajar sebagai guru private?
Itee
: Saya sudah lama mengajar, kurang lebih saya mengajar sudah 6 tahun.
2.
Iter : Menurut
Anda bagaimana pendidikan yang ada di Indonesia ini ?
Itee
:Menurut saya pendidikan di Indonesia sudah baik tapi cara pengajaran atau
penyampaian kepada muridnya tekadang tidak melalui prosedur dari pendidikan
yang ditetapkan. Selain itu sarana dan prasarana sekolah yang ada di indonesia
khususnya di sekolah negeri masih belum memadai.
3.
Iter :
Menurut pandangan Anda, pembelajaran, pengajaran, dan siswa itu seperti apa ?
Itee
: Menurut saya, pembelajaaran adalah
proses dalam belajar yang melibatakan adanya peran dari seorang guru dan murid,
dimana guru membimbing muridnya dalam proses belajar sedangkan pengajaran
sendiri adalah apa yang di berikan oleh guru kepada siswanya tergantung dari
situasi dan kebutuhan yang mendukung adanya proses pengajaran yang
aktif. Dan menurut saya siswa sekarang ini semakin aktif apalagi sekarang zaman
sudah makin canggih tapi tetap kita sebagai guru juga harus membimbingnya agar
tetap sejalan dengan arahan kita.
4.
Iter : Apa
motivasi yang mendasari Anda untuk menjadi seorang pendidik?
Itee
: Motivasi saya mengajar karena selain saya ingin mandiri, saya juga ingin
mendapatkan uang tambahan buat keperluan kuliah. Dari uang tambahan ini saya
sudah bisa membiayai kuliah saya sendiri.
5.
Iter : Menurut sudut pandang Anda, bagaimana
Anda melihat peserta didik zaman sekarang?
Itee
: Menurut saya siswa sekarang lebih pintar dibandingkan siswa zaman dulu,
karena siswa sekarang sudah mengerti teknologi, bahkan anak kecil saja sudah
mengerti teknologi tetapi banyak juga siswa sekarang yang salah menggunakan
kecanggihan teknologi sekarang ini. Contohnya saja anak zaman sekarang lebih banyak
menghabiskan waktunya untuk bermain internet dibandingkan belajar, ini membuat
siswa tidak konsentrasi belajar ketika sedang belajar di kelas. Dan kecanggihan
teknologi ini bisa membuat siswa zaman sekarang terlalu cepat mendapatkan
informasi yang sebenarnya belum sesuai dengan usianya.
6.
Iter : Apa filosofis Anda dalam mengajar?
Itee
: Saya lebih memotivasi murid-murid saya, apa lagi sekarang murid-murid saya
sudah mau Ujian Nasional jadi saya harus lebih menyemangati mereka belajar.
7.
Iter : Bagaimana cara Anda memotivasi peserta
didik Anda untuk belajar ?
Itee
: Biasanya saya membuat games masih terkait dengan materi atau saya membantu
mereka dengan membuatkan mereka cara cepat untuk mengahapalkan suatu materi. Ya
intinya apa yang saya lakukan itu untuk membangun minat siswa untuk belajar
dengan cara yang mengasyikan.
8.
Iter : Strategi seperti apa yang Anda gunakan
ketika mengajar ?
Itee
: Dalam mengajar saya biasanya menggunakan strategi yang bervariasi, tapi
biasanya membentuk kelompok, kemudian berdiskusi dengan kelompok mereka terkait
masalah yang sesuai dengan topik tertentu
9.
Iter ; Pendekatan
seperti apa yang Anda gunakan dalam mengajar ?
Itee
: Saya mengguankan PTK ( Pendekatan Tindak Kelas ) dimana saya lebih
memperhatikan murid-murid yang lambat menangkap pelajaran yang saya berikan,
kemudian lebih attention terhadap murid yang belum paham tersebut.
10. Iter
: Pengalaman unik seperti apa yang pernah Anda alami selama menjadi tenaga
pengajar ?
Itee
: Banyak sekali pengalaman unik saya ketika mengajar berhubungn saya mengajar kurang
lebih dari 6 tahun, yang paling saya ingat, ketika saya menggajarkan
anak murid saya melaui games dimana mereka mendengarkan saya dengan seksama dan
karena saya mengajar kurang lebih dari 20 orang anak dalam satu kelas jadi
ada-ada saja tingkah mereka, dengan berbagai karakter anak saya
sebagai guru di tuntut untuk harus lebih sabar, dan lebih memahami karakter
dari masing-masing anak.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Seni dan Ilmu Mengajar
Mengajar
merupakan seni dan ilmu mentransfromasikan bahan ajar kepada peserta didik pada
suatu situasi dengan menggunakaan media tertentu. Seni mengajar dapat terlihat
dengan adanya interaksi pembelajaran secara langsung antara guru dengan
siswanya. Pembelajaran merupakan aktivitas dimana guru membantu siswa untuk
dapat memahami berbagai pengetahuan. Guru tidak hanya harus memahami berbagai
pengetahuan tetapi guru juga harus mampu melihat apa yang terjadi dikelas dan
mengetahui bagaimana cara yang harus dilakukan tentang apa yang dilihat. Disini
Iko (inisial) menerapkan konsep mengajar seperti mendorong dan membangkitkan
gairah baru siswa untuk membangun jembatan antara apa yang mereka ketahui dan
dapat lakukan, serta bagaimana mereka mampu menjadi pembelajar yang kontinyu.
Guru
memfasilitasi siswa tidak hanya sekedar berperan sebagai sumber ilmu, melainkan
juga dapat memotivasi mereka, menangkap pikiran dan hati mereka serta dapat
melibatkan siswa secara lebih aktif dalam pembelajaran.
Kegiatan
pembelajaran yang baik menuntut kehadiran guru yang baik pula. Guru yang cerdas
mencerminkan keterpelajaran dimana guru yang efektif dapat menginspirasi siswa
dan memprovokasi dengan baik muridnya. Selain itu guru yang cerdas memiliki
intergritas yang tinggi, dan terakhir harus mampu berkomunikasi dengan baik
dengan peserta didiknya. Dan esensinya guru dapat menggunakan gaya apa saja,
asalkan dengan cara itu dia mampu membuat standar dan perilaku mengajar yang
memungkinkan siswa dapat belajar dengan mudah dan benar.
3.2 Mengajar, Ahli Paedagogi, dan Paradigma
Mengajar
Dalam mengajar
tentunya tidak terlepas dari elemen-elemen yang dapat mendukung tercapainya
tujuan dari proses pembelajaran. Elemen-elemen tersebut terdiri dari tujuan,
bahan ajar, adanya interaksi antara guru dengan siswa, bagaimana pengelolaan
kelas, dan evaluasi, dengan hasil belajar sebagai produknya. Ketika semua
elemen saling bersinergi untuk mendukung tercapainya tujuan dari proses
tersebut yang telah ditentukan, kegiatan belajar mengajar yang efektif akan
terbentuk. Metode pembelajaran yang digunakan oleh Iko (inisial) bukan hanya
berpusat pada pengetahuan yang ia berikan saja, tetapi juga meminta muridnya
untuk bisa berpikir kreatif atau mengkaji ilmu yang ia berikan dan kemudian
mempraktekan ilmu tersebut, artinya dimana metode yang digunakan bukan
hanya teacher centered, tetapi mengkombinasikan juga pembelajaran
dengan basis student centered.
Kegiatan
mengajar yang unggul dipandang sebagai proses akademik, dimana siswa
termotivasi untuk belajar secara berkelanjutan, substansial, dan positif,
terutama berkaitan dengan bagaimana mereka berpikir, bertindak, dan merasa.
Keunggulan ini juga bermakna suatu proses yang mengangkat motivasi belajar
siswa ke tingkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan efek mengajar biasa.
Kegiatan belajar semacam ini menginspirasi siswa untuk terus belajar. Seorang
guru yang sangat baik dipandang sebagai sebagai salah satu energi yang
memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap terciptanya suasana belajar
siswa, termasuk meningkatkan minat siswa.
Di
kelas, guru melakukan banyak sekali improvisasi di tengah-tengah tindakan
melakukan pembelajaran altenatif. Mereka selalu mempertimbngkan akan
melanjutkan atau memilih altrenatif lain dari kegiatana pembelajaran. Iko (inisial)
juga melakukan hal yang serupa dimana ketika dalam proses belajar ada siswanya
yang sulit mengerti terhadap suatu materi, beliau menggunakan strategi yang
mudah supaya murid tersebut dapat memahami materi tersebut.
Setiap
guru di dasari pada paradigma yang berbeda mengenai cara belajar siswa.
Pembelajaran yang lebih akan terjadi ketika guru mulai mendapatkan pemahaman
yang prima tentang bagaimana kegiatan belajar yang terjadi. Guru akan menjadi
lebih efektif bila secara sadar dapat memilih menggunakan strategi mengajar
tertentu, dan memperluas perbendaharaan stategi yang memungkinkan untuk
diterapkannya di kelas. Jika dikaitkan dengan 5 strategi yang ada di buku, Iko
(inisial) memiliki 4 strategi diantarnya yaitu,
- Ceramah dan Menjelaskan, yaitu menyajikan informasi dengan cara
yang dapat di pahami, mudah diproses, dan diingat.
- Mencari dan Menemukan, yaitu pembelajaran keterampilan berpikir dan
memecahkan masalah, dan kreativitas melalui penyelidikan dan penemuan.
- Kelompok dan Tim, yaitu berbagi informasi, bekerja secara
kooperatif pada pembelajaran proyek, seta mengeksplorasi sikap, pendapat,
dan keyakinan melaui proses belajar kelompok.
3.3 Guru yang Sukses dan yang Salah
Pengajaran
benar-benar sebuah profesi yang mulia, demikian pendapat Mellisa Kelly. Profesi
ini merupakan salah satu profesi yang sangat menyita waktu dan memerlukan
komitmen dari guru yang menyandang profesi itu.
Menurut
Mellisa Kelly guru paling sukses memiliki beberapa karakteristik umum. Setiap guru
bisa mendapatkan keuntungan dari focus pada kualitas penting ini. Keberhasilan dalam
mengajar, seperti juga disebagian besar wilayah kehidupan, hamper seluruhnya
tergantung pada sikap dan pendekatan Anda. Berikut adalah enam besar kunci
sukses menjadi seorang guru yang sukses:
- Rasa humor. Rasa rumor ini bisa membantu Anda menjadi guru yang sukses.
Dimana rasa humor Anda dapat meringankan situasi kelas sebelum menjadi
gangguan yang menegangkan dan juga meningkatkan perhatian bagi siswa. Dan yang
lebih penting, rasa humor akan memungkinkan Anda untuk melihat sukacita
dalam hidup dan membuat seseorang lebih bahagia.
- Bersikap positif. Sikap positif merupakan asset terbesar dalam hidup. Sikap ini akan
membantu Anda mengatasi dalam mengajar dengan cara terbaik.
- Harapan tinggi. Guru yang efektif harus memiliki harapan yang tinggi. Harapan Anda
akan menjadi salah satu faktor kunci dalam membantu siswa belajar dan
mencapai hasil belajar yang sangat baik.
- Konsistensi. Kekonsisten Anda dapat menciptakan lingkungan belajar yang aman
bagi siswa dan mereka akan lebih mungkin untuk berhasil. Dimana mereka akan
menyukai lingkungan yang aturan-aturannya tidak terus berubah.
- Keadilan. Dimana seorang guru yang adil memperlakukan siswa yang sama dalam
situasi yang sama.
- Fleksibilitas. Salah satu prinsip pengajaran bahwa segala sesuatu harus dalam
keadaan konstan berubah. Interupsi dan gangguan adalah normal, dan kita
harus siap memodifikasi perilaku dan sikap manakala itulah adalah pilihan
yang benar.
Guru
yang paling dikagumi adalah mereka yang tetap ingin tahu pentingnya intelektual
dan professional, baik didalam maupun dilauar kelas selam beberapa dekade. Mereka
tetap hidup dalam kenagan siswa selamanya karena kreativitas, rasa
menyenangkan, dan belas kasihan mereka. Berikut adalah kualitas guru yang
diduga kuat paling sukses berkontribusi bagi karir mengajar guru:
a.
Guru yang sukses memiliki harapan tinggi
secara terus menerus.
b.
Mereka berpikir kreatif
c.
Fleksibel dan sensitive tingkat tinggi
d.
Memiliki rasa ingin tahu, percaya diri, dan
berkembang atau kuriositas.
e.
Mereka adalah manusia sempurna. Guru yang
membawa seluruh dirinya untuk pekerjaan dan mengakui secara jujur ketika mereka
tidak tahu jawabannya.
f.
Guru yang sukses senang belajar dan menjalani
kehidupan.
Menurut Beth Lewis, orang-orang memasuki profesi
mengajar karena mereka ingin membuat perbedaan positif dalam masyarakat. Bahkan
guru dengan niat murni tidak sengaja dapat mempersulit misi mereka jika tidak
berhati-hati. Namun, guru-guru baru dan bahkan kadang-kadang guru yang
menjelang veteran, akan bekerja keras untuk bersungguh-sungguh menghindari
perangkap umum yang dapat membuat pekerjaan mereka lebih keras daripada yang
inheren. Bantulah diri sendiri untuk menghindari perangkap kesalahan dibawah
ini dalam menjalani profesi guru secara seumurnya:
a.
Menjadikan siswa mereka sebagai teman
kebanyakan.
b.
Menjadi terlalu mudah bertoleransi pada
kedisiplinan.
c.
Tidak menyiapkan organisasi kerja yang benar
dari awal
d.
Meminimalkan sumbatan komunikasi dan
keterlibatan orang tua
e.
Terlibat dalam perangkap politik kampus yang
menyebabkan terganggunya kesempatan yang sama bagi guru baru dan veteran
f.
Mengisolasikan diri dari komunitas sekolah
g.
Bekerja terlalu keras sehingga kehilangan
waktu istirahat.
h.
Tidak mau meminta bantuan.
i.
Menjadi terlalu optimis dan terlalu mudah
putus asa.
j.
Menjadi terlalu keras pada diri sendiri.
3.4 Kaitan dengan Prinsip
Paedagogis
Menurut
Fatima Addine (2001) prinsip-prinsip pedagogi adalah tesis dasar teori
psikopedagogis, pada arah pedagogis yang menjadi standard an prosedur tindakan
untuk menentukan dasar pedagogis yang paling penting dalam proses pendidikan
kepribadian.
Menurut Addine (2001),
diantara prinsip-prinsip pedagogis itu adalah:
1.
Kesatuan karakter ilmiah dan ideologis dari
proses paedagogis yang menyoroti bahwa setiap proses paedagogis harus
terstruktur berdasarkan temuan yang paling maju.
2.
Mengkombinasikan karakter kolektif dan
individual pendidikan, serta penghormatan terhadap kepribadian siswa. Seperti
yang dilakukan oleh Iko (inisial) yang mengajarkan 20 orang siswa yang tentunya
memiliki karakteristik dan kemampuan yang berbeda-beda. Dengan perbedaan
tersebut, menuntut beliau untuk dapat memahami karakter satu per satu siswanya
dan menanganinya sesuai dengan kepribadian siswa tersebut.
3.
Kesatuan pengajaran, pendidikan dan
perkembangan proses, karean didasarkan pada kesatuan dialektis antara
pendidikan dan pengajaran yang harus terkait dengan kegiatan pembangunan pada
umumnya.
4.
Proses paedagogis harus terstruktur
berdasarkan kesatuan dan hubungan antara kondisi manusia.
5.
Masing-masing subsistem aktivitas, komunikasi,
dan kepribadian saling terkait satu sama lain.
Guru
harus mampu mencapai kemampuan profesional tingkat tinggi. Kemampuan itu bisa
dicapai melaui pendidikan persiapan, praktik kerja lapanag, pendidikan profesi,
dan pengembangan profesional berkelanjutan, yang semuanya ditujukan untuk dapat
memebentuk karakteristik guru yang profesional. Menurut Vygotsky,
dimensi-dimensi yang membentuk guru profesioanl adalah sebagai berikut :
1.
Pembentukan guru sebagai pribadi yang utuh.
Guru diharapkan mampu membimbing dan mengarahkan peserta didik dalam setiap
aspek perkembangan kepribadian dan dimensi sosialnya
2.
Pembentukan karakter yang sistematik yang
diperlukan untuk memberdayakan siswanya
3.
Pembentukan karakter yang terpribadi (
Personalized character ) yaitu dengan individualisasi ( orientasi pada
orang tertentu secara individual ) dan integrasi ( orientasi pada orang-orang
secara menyeluruh )
4.
Pembentukan karakter preventif, tidak hanya
fokus pada pemecahan masalah melainkan dalam rangka mengantisipasi kesulitan
dalam situasi defisit yang dapat menghambat pemenuhan tujuan
Sebuah
proses paedagogis sekolah memiliki karakteristik penting, yaitu sistematis,
terencana, terarah dan spesifik untuk pengembangan siswa dan keterkaitannya
dengan guru, tindakan-tindakan yang bersifat langsung, dan tidak terpisahkan
dari pengembangan kepribadian. Proses belajar-mengajar yang terpadu berfokus
pada pembentukan kemampuan, keterampilan, dan kepribadian siswa secara
seutuhnya.
BAB IV
KESIMPULAN
Dari
hasil wawancara dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan belajar
mengajar serta pembelajarn, guru dan siswa merupakan suatu elemen yang saling
berketerkaitan yang erat. Kesuksesan dari seorang guru di lihat dari bagaimana
hasil evaluasi yang didapatkan anak, seberapa efektif metode yang ia terapkan,
bagaimana ia mampu memotivasi anak untuk belajar bukan hanya sebagai kewajiban
tetapi sebagai kebutuhan, serta seberapa baikkah minat anak dalam emngikuti
kegiatan belajar mengajar, semuanya didasari bagaimana pribadi guru tersebut
menerapkan konsep-konsep dan teori-teori yang dipahaminya untuk mengajar dengan
baik.
Seorang
pendidik seperti Iko (inisial), sudah dapat dikatakan efektif yang telihat dari
dinamika yang ia terapkan ketika sedang mengajar, seperti apa ia memotivasi
siswanya, bagaimana ia bisa membuat suasana yang lebih inovasi dan tidak
membosankan peserta dididknya, saling bebagi informasi, bekerja secara
kooperatif, dan beliau juga meminta muridnya untuk bisa berpikir kreatif atau
mengkaji ilmu yang ia berikan dan kemudian mempraktekan ilmu tersebut.
BAB V
SARAN
Saran
saya untuk guru, metode yang digunakan sekarang sudah termasuk baik, namun akan
lebih baik lagi jika itu terus dikembangkan dan direvisi menjadi semakin baik
lagi. Dan saran saya untuk mata kuliah Paedagogi ke depannya untuk lebih
berinovasi dan lebih mengeksplore pengetahuan yang ada sesuai dengan
perkembangan zaman yang terupdate. selanjutnya terkait dengan kegiatan
di kelas, belajar dengan suasana yang tidak begitu serius harus tetap
dipertahankan, adanya games juga harus tetap ada, dan yang terakhir terkait
dengan tugas dalam mata kuliah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Danim, Sudarwan.
(2010). Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi., Bandung: Alfabeta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar